Linda Wenifanetri Akan Gantung Raket Di Tahun 2017

Linda Wenifanetri

Linda Wenifanetri merupakan salah satu pebulutangkis tunggak putri yang dimiliki oleh Indonesia, telah membuat keputusan bahwa dirinya akan pensiun di dunia bulutangkis di tahun 2017 mendatang.

Linda Wenifanetri
Linda Wenifanetri memutuskan gantung raket di tahun 2017

Atlet yang masih berusia 26 tahun tersebut telah memutuskan untuk gantung raket lantaran telah merasa bahwa dirinya sudah mencapai titik puncak dalam perjalanan karirnya.

Setelah menghabiskan waktu 15 tahun di dunia bulutangkis, di mana delapan tahun dari keseluruhan perjalanan karirnya dihabiskan di Cipayung. Secara resmi, Linda sudah membuat surat pengunduran diri dan telah mengajukan ke Pelatih Nasional Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (Pelatnas PBSI) per tanggal 21 Desember 2016 lalu.

“Saya memutuskan untuk pensiun, bukan karena saya keluar. Keputusan besar ini juga sudah saya pikirkan secara matang bersama pihak keluarga dan orang-orang terdekat. Alhamdulillah, semuanya mengerti akan keputusan saya ini. Insya Allah semaunya akan berjalan baik-baik saja kedepannya,” ungkap Linda.

Sebagai atlet bulutangkis, Linda juga telah menyumbangkan sejumlah gelar bagi Tanah Air dan mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah level internasional. Salah satunya ialah dirinya mampu meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta.

“Momen terbaik saya selama berkarir sebagai atlet bulutangkis yakni ada ajang Kejuaraan Dunia 2015. Ketika mengingat momen itu, saya masih meneteskan air mata. Kala itu, saya hampir saja tak dapat bermain hingga pada akhirnya saya memiliki wildcard dan keluar meraih medali perunggu,”

“Mungkin semua orang menganggap bahwa medali itu hanyalah perunggu. Namun tidak bagi saya. Medali itu adalah emas. Karena, untuk merebut medali tersebut, diperlukan kerja keras, pantang menyerah, dan kerja sama tim,” imbuh Linda.

Pebulutangkis kelahiran 18 Januari 1990 tersebut tak luput mengucapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh yang berperan dalam perjalanan karirnya, terlebih untuk PBSI yang telah membuka peluang bagi dirinya.

“Tentu saya berterima kasih kepada seluruh orang-orang terdekat yang telah membantu perjalanan karir saya selama ini. Terkhusus untuk PBSI yang memberikan saya kepercayaan. Mohon maaf jika selama ini sikap maupun perbuatan saya merugikan,” tutup Linda.

Rexy Mainaky Resmi Menjadi Pelatih Bulutangkis Thailand

Linda yang masih berusia muda telah memutuskan untuk pensiun. Sementara itu, Rexy Mainaky sudah resmi menjadi pelatih kepala tim Nasional bulutangkis Thailand. Atlet bulutangkis yang pernah meraih medali emas di sektor ganda putra bersama Ricky Soebagdja dalam ajang Olimpiade Atlanta 1996 itu, mulai bekerja di awal 2017.

Rexy Mainaky
Rexy Mainaky resmi menjadi pelatih kepala tim Nasional Bulutangkis Thailand

“Saya akan resmi menjadi kepala pelatih bulutangkis Thailand pada tanggal 5 Januari 2017 mendatang. Adapun durasi kontrak saya, yakni selama tiga tahun lamanya,” ungkap Rexy.

Rexy mengungkapkan bahwa pilihan untuk bekerja di Thailand tersebut lantaran dirinya menyukai tantangan. Terlepas dari masa jabatannya sebagai Kabid Binpres PP PBSI (Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi) telah usai.

“Masa jabatan saya sudah berakhir di PBSI dan seketika saya memiliki sejumlah tawaran dari beberapa pihak. Namun pada akhirnya saya memilih bekerja di Thailand, karena kesukaan saya dengan sebuah tantangan,” tutup Rexy.

PBSI Lakukan Evaluasi

PBSI selaku induk tertinggi bulutangkis Indonesia tengah berencana untuk melakukan rapat evaluasi karir para atlet Tanah Air sepanjang tahun 2016. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Wiranto yang telah resmi menggantikan Gita Wirjawan sebagai ketua PBSI.

Wiranto
Wiranto selaku ketua PBSI mengatakan bahwa akan mengadakan evaluasi

“2016 segera berakhir. Berbagai hal di dunia bulutangkis Indonesia telah terjadi. Mulai dari yang pahit hingga yang menggembirakan bagi kita semua. Maka dari itu, kami akan mengadakan evaluasi PBSI. Guna menatap tahun 2017 dengan persiapan yang matang dan hasil yang indah,” ujar Wiranto.

Kegagalan Indonesia Di Ajang SSF Dubai, PR Untuk PBSI

PBSI

Tim bulu tangkis Tanah Air tidak mampu bersaing di ajang Badminton World Series 2016 yang digelar di Dubai sepekan lalu. Catatan tersebut membuat kemunduran bagi prestasi bulu tangkis Indonesia di tahun ini. Pasalnya, di ajang yang sama di tahun lalu, setidaknya terdapat satu gelar yang berhasil di bawa pulang ke Tanah Air.

PBSI
Para pengurus Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PBSI)

Di tahun lalu, satu-satunya perwakilan Indonesia yang sukses meraih gelar juara di ajang BWF Dubai adalah dari sektor ganda putra yang diwakilkan oleh Mohammad Ahsan berpasangan dengan Hendra Setiawan.

Pasangan ganda putra Ahsan/Hendra berhasil mengalahkan ganda asal China Chai Biao/Hong Wei dengan pertempuran yang sangat ketat, 13-21, 21-14 dan 21-14.

Dengan catatan kegagalan tim bulu tangkis Indonesia di ajang tahunan tersebut, menjadikan pekerjaan rumah bagi Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Achmad Budiharto selaku Sekertaris Jenderal Pengurus Pusat PBSI mengatakan bahwa pihaknya akan mengadakan evaluasi dan mencari solusi terbaik demi perbaikan kedepannya.

Budiharto menyatakan bahwa salah satu solusi dari PBSI untuk memperbaiki prestasi Indonesia adalah dengan penanganan cedera. “Tentu setiap tahun kami terus melakukan evaluasi. Demi meningkatkan prestasi para atlet bulutangkis Indonesia di berbagai ajang internasional,” ujar Budiharto.

Ia menambahkan, bahwa dengan pengurus yang baru, maka ada semangat yang baru pula. “Dengan para pengurus PBSI yang baru, tentu kita mengharapkan ada semangat baru. Sehingga, mampu bersaing di kancah internasional. Demi mengharumkan nama Indonesia,”  tutup Budiharto.

Para Wakil Indonesia Gagal Di BWF Dubai 2016

PBSI selaku induk tertinggi bulu tangkis di Indonesia mengirimkan empat wakilnya ke ajang Badminton World Series 2016 yang digelar di Dubai pada pekan lalu. Namun keempat wakil tersebut gagal meraih satu gelar pun.

BWF Dubai 2016
tak ada satupun wakil Indonesia yang mampu meraih gelar juara BWF Dubai 2016

Empat wakil Indonesia yang berpartisipasi di ajang bergengsi tahunan tersebut yakni, dua sektor ganda campuran dan ganda putra.

Dua ganda putra Tanah Air diwakilkan oleh Marcus Fernaldi Gideon yang berpasangan dengan Kevin Sandjaya Sukamuljo dan Ricky Karanda Suwardi bersama Angga Pratama. Keduanya berada dalam satu grup, tetapi tak ada satupun yang berhasil lolos ke fase selanjutnya. Mereka semua harus gugur di tahap kualifikasi grup.

Sementara itu, andalan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir yang sebelumnya menyatakan bahwa siap untuk merebut gelar juara, namun pasangan tersebut harus gugur lebih awal. Owi/Butet bahkan harus angkat koper lebih cepat (mundur). Dikarenakan Natsir harus mengalami cedera pada bagian lutut saat laga pembuka tengah berlangsung.

Dengan mundurnya Owi/Butet, pasangan ganda campuran Indonesia lainnya yakni Praveen Jordan dan Debby Susanto secara otomatis melenggang ke tahap berikutnya. Lantaran, pasangan peraih gelar juara All England 2016 tersebut pada laga pertama meraih kemenangan.

Tetapi sayang, satu-satunya wakil Tanah Air yang lolos dari penyisihan grup tersebut harus takluk oleh wakil Inggris Chris Adcock dan Gabriel Adcock. Dimana lawan mereka adalah pasangan suami istri.

Debby: Maaf kami tak dapat melaju ke babak selanjutnya.

Pasangan Praveen/Debby yang menjadi wakil Indonesia satu-satunya di tahap gugur, harus takluk di tangan pasangan Inggris. Debby pun meminta maaf kepada pelatih dan terlebih masyarakat Indonesia. Lantaran tak mampu melangkah lebih jauh dan membawa gelar juara.

Praveen/Debby
Praveen/Debby tak mampu bicara banyak di ajang BWF Dubai 2016

“Kami berdua mohon maaf kepada pelatih, terutama seluruh masyarakat Indonesia, bahwa kami tak mampu meraih gelar juara. Ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kami. Supaya kedepannya mampu tampil lebih baik,”  ujar Debby.

Ganda Campuran Indonesia Bidik Gelar Juara SSF Di Dubai

Owi/Butet

Ganda campuran kebanggaan Indonesia, Tontowi Ahmad yang berpasangan dengan Liliyana Natsir, menargetkan gelar juara dunia dalam perhelatan turnamen bulu tangkis Final Super Series yang dihelat di Dubai, UEA (Uni Emirates Arab) sebagai gelar penutup di tahun 2016 ini.

Owi/Butet
Owi/Butet juara Olimpiade Rio De Janeiro, Brasil 2016

Namun, pasangan bulutangkis tersebut mengaku bahwa mereka kurang persiapan. Dimana baru saja, selesai mengikuti ajang Kejuaraan Nasional. Tetapi, mereka berdua berjanji akan memberikan usaha semaksimal mungkin, demi meraih gelar juara.

“Kami berdua sebelum pergi ke Dubai untuk mengikuti kejuaraan SSF pada Desember nanti, baru selesai mengikuti ajang kejurnas. Namun walaupun kami kurang persiapan. Tetapi kami berdua akan tampil dengan kualitas terbaik yang kami miliki. Tentu agar gelar juara dunia dapat kita bawa pulang ke Tanah Air,” ujar Liliyana.

Owi/Butet begitu sapaan akrab dari pasangan ganda campuran tersebut, merupakan salah satu dari keempat pasangan bulutangkis Indonesia yang akan tampil di ajang SFF 2016 nanti di Dubai. Ketiga pasangan lainnya yakni, dua ganda putra yang diisi oleh Angga Pratama yang akan berpasangan dengan Ricky Karanda Suwardi.

Kevin Sanjaya Sukamulja bersama Marcus Fernaldi Gideon dan satu ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto.

Pada perhelatan SFF 2015 lalu, pasangan Owi/Butet harus pulang ke Indonesia lebih cepat. Pasalnya, mereka tak mampu melewati fase grup. Meski demikian, keduanya tetap optimis pada laga yang akan dihelat di Hamdan Sport Compelx.

Kepercayaan diri pasangan tersebut pun terbilang tinggi. Lantaran, keduanya baru saja meraih gelar juara Hong Kong Open 2016 dan Tiongkok Open 2016 serta tentu satu gelar yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Indonesia, Olimpiade Rio De Janeiro, Brasil 2016.

“Setelah kami berhasil meraih gelar juara Olimpiade di Brasil lalu. Kepercayaan diri kami terasa meningkat dan bermain lebih lepas. Walaupun tak ada lawan yang mudah untuk dikalahkan. Namun, kami akan tetap optimis untuk keluar sebagai juara di Dubai nanti, tambah Butet.

Owi/Butet Di Ajang Final Super Series 2016

Perhelatan Final Super Series di Dubai mendatang, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir akan bergabung di grup A bersama ganda campuran asal Denmark Joachim Fishcer Nielsen yang berpasangan dengan Christinna Pedersen.

Final Super Series Dubai
Final Super Series Dubai akan berlangsung di Hamdan Sport Compelx

Wakil asal Korea Selatan yang diperankan oleh pasangan Ko Sung Hyun bersama Kim Ha Na dan sesama pasangan asal Tanah Air, yakni Praveen dengan Debby.

Dalam laga pembuka, Owi/Butet akan melawan juniornya Praveen bersama Debby. Pasangan yang berhasil meraih gelar juara dunia Olimpiade tersebut memiliki catatan spesial, dimana mereka berhasil memenangkan pada ajang Hong Kong Terbuka dua game langsung, yakni dengan skor 21-19 dan 12-14. Secara kesuluruhan, pasangan campuran kebanggaan Tanah Air tersebut unggul 4-0 atas pasangan yang meraih gelar juara All England 2016 lalu.

Wiranto: Kami Akan Dukung Seluruh Pasangan Di SSF Dubai

Ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Wiranto mengungkapkan bahwa pihaknya akan mendukung secara penuh para atlet yang akan berjuang di Dubai dalam turnamen SFF, Desember nanti.

Wiranto
Wiranto menggantikan Gita Wirjawan yang mundur dari jabatannya

“Tentu pihak kami akan selalu mendukung mereka (atlet bulutangkis) yang akan tampil di Final Super Series Dubai,” ujar Wiranto.

Wiranto yang kini menjabat sebagai ketua PBSI, berkat Gita Wirjawan yang mundur dari jabatannya menambahkan, bahwa dengan usaha keras, semua hasil terbaik akan datang. Kami bersama masyarakat Indonesia akan mendoakan selalu.

“Usaha keras itu tak akan membohongi. Teruslah tampil semaksimal mungkin, demi raihan yang terbaik. Kami bersama seluruh masyarakat Tanah Air akan selalu mendoakan,” tutup Wiranto.